Diduga Bocor Berbulan-bulan, Pipa Gas Bawah Laut Pertamina EP di Pangkalan Susu Picu Kekhawatiran Nelayan
KitaMonitor – LANGKAT | Jalur pipa gas bawah laut milik Pertamina EP di Lapangan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, dilaporkan mengalami kebocoran dan diduga telah berlangsung selama berbulan-bulan tanpa penanganan maksimal.
Informasi yang dihimpun dari seorang anak buah kapal (ABK) menyebutkan, kebocoran pipa di perairan Kelurahan Bukit Jengkol, Kecamatan Pangkalan Susu itu sudah terjadi sekitar delapan bulan. Namun hingga kini, kondisi tersebut terkesan belum tertangani secara tuntas.
Pantauan di lokasi menunjukkan adanya gelembung-gelembung yang muncul di permukaan laut tepat di titik yang diduga menjadi sumber kebocoran. Gejala ini kuat mengindikasikan adanya tekanan gas yang keluar dari jalur pipa bawah laut.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran para nelayan setempat. Mereka mengaku was-was melintas di sekitar lokasi, mengingat potensi bahaya yang bisa ditimbulkan.
“Awalnya kecil, tapi lama-lama semburan gasnya makin besar. Kami takut kalau terjadi sesuatu,” ujar seorang nelayan tradisional yang rutin melaut di kawasan tersebut.
Jalur pipa tersebut diketahui menyalurkan gas dari Pulau Panjang (PPJ) menuju Main Gathering Station (MGS) melalui dasar laut. Warga menduga kebocoran dipicu oleh kondisi pipa yang sudah korosif atau mengalami kerusakan akibat usia pakai.
Yang lebih mengkhawatirkan, lokasi kebocoran disebut tidak jauh dari area jetty bongkar muat elpiji di fasilitas gasdom. Jika tidak segera ditangani serius, potensi kebakaran atau ledakan dinilai bisa berdampak fatal.
Menanggapi hal ini, Humas Pertamina, Wahyu, mengaku pihaknya telah turun ke lapangan setelah menerima informasi dari media.
Menurutnya, langkah awal yang dilakukan adalah menghentikan aliran gas dari PPJ ke MGS. Namun proses penanganan belum sepenuhnya rampung karena keterbatasan waktu di hari pertama.
“Kami langsung turun ke lokasi untuk mematikan jalur gas. Karena waktu sudah sore, penanganan dilanjutkan keesokan harinya. Ini menyangkut keselamatan, jadi tidak boleh setengah-setengah,” ujar Wahyu, Jumat (24/4/2026).
Pihaknya juga menyampaikan apresiasi atas informasi yang disampaikan media, namun hingga kini belum ada penjelasan rinci terkait penyebab pasti kebocoran maupun sejak kapan kejadian tersebut berlangsung.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius terkait pengawasan dan pemeliharaan infrastruktur migas di wilayah tersebut. Jika benar kebocoran telah terjadi selama berbulan-bulan, maka hal ini berpotensi menjadi ancaman nyata bagi keselamatan lingkungan dan masyarakat pesisir.KMN-Zai

