Rupiah Masuk Lima Mata Uang Terlemah Dunia, Badko HMI Sumut: Alarm Ekonomi Nasional
KitaMonitor – BINJAI | Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara (Badko HMI Sumut) menilai melemahnya nilai tukar rupiah hingga masuk dalam daftar lima mata uang terlemah di dunia menjadi sinyal serius bagi kondisi ekonomi nasional. Kondisi tersebut dinilai bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan alarm terhadap stabilitas ekonomi yang harus segera direspons pemerintah.
Ketua Umum Badko HMI Sumut, Muhammad Yusril Mahendra Butar Butar, mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta meningkatnya biaya produksi di berbagai sektor industri. Menurut dia, tekanan terhadap rupiah juga berpotensi memperburuk beban utang luar negeri dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.
“Ketika rupiah terus melemah, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak. Harga barang impor naik, biaya distribusi meningkat, dan inflasi semakin terasa di tingkat bawah,” ujar Yusril dalam keterangan tertulis, Selasa, 12 Mei 2026.
Badko HMI Sumut menilai pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk memperkuat fundamental ekonomi nasional. Tidak hanya melalui kebijakan moneter, tetapi juga pembenahan sektor riil, penguatan investasi produktif, serta peningkatan ketahanan pangan dan energi.
Selain itu, organisasi mahasiswa tersebut menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku dan pangan yang dinilai masih tinggi. Ketergantungan itu membuat ekonomi domestik rentan terhadap tekanan global, terutama ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan tajam.
“Pemerintah jangan hanya fokus menjaga angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan stabilitas ekonomi rakyat. Jika rupiah terus tertekan, dampaknya bisa meluas terhadap pengangguran dan kemiskinan,” kata Yusril.
Badko HMI Sumut juga meminta Bank Indonesia dan pemerintah pusat menjaga koordinasi dalam mengendalikan inflasi serta menjaga kepercayaan pasar. Mereka menilai stabilitas politik dan kepastian kebijakan menjadi faktor penting dalam menjaga nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, pengamat ekonomi menilai tekanan terhadap mata uang negara berkembang tidak lepas dari penguatan dolar Amerika Serikat dan tingginya tensi geopolitik global. Namun, negara dengan fundamental ekonomi kuat dinilai cenderung lebih mampu menjaga stabilitas mata uangnya.
Badko HMI Sumut berharap pemerintah tidak menganggap pelemahan rupiah sebagai persoalan sementara. Sebab, jika tidak ditangani secara serius, kondisi tersebut dapat memicu perlambatan ekonomi nasional dalam jangka panjang.KMN-Zai

