Dugaan Penganiayaan Siswa di Sekolah X Mencuat, Guru Y Bantah: “16 September Saya Sakit, Tak Masuk Sekolah”
KitaMonitor – BINJAI | Dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Kota Binjai mencuat setelah perkara tersebut dilaporkan ke Polres Binjai.
Dalam laporan tersebut, seorang guru berinisial Y disebut-sebut diduga terlibat dalam dugaan penganiayaan terhadap seorang siswa. Namun, tudingan tersebut dibantah oleh Y.
Guru olahraga yang juga disebut menjabat sebagai Pembantu Kepala Sekolah (PKS) Bidang Kesiswaan itu menegaskan dirinya tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap siswa yang dimaksud.
Bantahan tersebut disampaikan Y saat dikonfirmasi wartawan di lingkungan sekolah, Sabtu (26/9/2026).
“Tidak ada penganiayaan, kalau saya mau dikroscek sama polisi saya pun berani,” ujar Y.
Y bahkan membantah berada di sekolah pada waktu dugaan peristiwa tersebut terjadi. Menurutnya, dugaan kejadian disebut berlangsung pada Rabu (16/9/2026), sementara dirinya mengaku sedang sakit dan tidak masuk sekolah.
“Hari Rabu, 16 September 2026 saya tidak masuk ke sekolah. Saya sakit dua minggu, dan ini baru selesai operasi gigi,” ucap Y.
Ia mengaku keberatan karena namanya dikaitkan dengan dugaan penganiayaan tersebut. Y juga menyebut hingga kini belum menerima surat panggilan dari pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.
“Saya pun gak terima juga dituduh gitu, sementara saya dua minggu gak masuk. Saya belum ada dapat surat panggilan,” katanya.
Y bahkan mengaku mempertimbangkan langkah hukum apabila tudingan tersebut dinilai telah merugikan nama baiknya.
“Bisa saja saya tuntut balik, namanya inikan pencemaran nama baik,” sambungnya.
Y juga mengaku berasal dari keluarga besar Polri. Karena itu, ia menyatakan siap apabila harus memberikan keterangan kepada penyidik terkait laporan dugaan penganiayaan tersebut.
“Kebetulan keluarga saya polisi semua. Seharusnya kalau ada surat (laporan) polisi saya dipanggil,” ujarnya.
Menurut Y, dirinya merasa dirugikan dengan beredarnya informasi mengenai dugaan penganiayaan tersebut. Ia menilai persepsi terhadap dirinya kemungkinan muncul karena posisinya sebagai guru olahraga sekaligus bidang kesiswaan.
“Maaf ya, anak sekarang gak bisa pelan (dikasih tahu), tapi mungkin karena wajah saya guru olahraga kesiswaan tempramen, dikira saya yang mukul, saya gak terima juga,” katanya.
Meski membantah dugaan tersebut, Y menyebut siswa yang dikabarkan menjadi korban merupakan anak yang baik dan pendiam.
“Ini ya sampai semua guru-guru di sini sama anak ini gak tanda, orangnya pendiam,” ujarnya.
Y juga mengaku telah mendengar kabar dugaan penganiayaan tersebut beredar di tengah masyarakat.
Sebelumnya, laporan dugaan penganiayaan terhadap siswa tersebut telah masuk ke Polres Binjai dengan nomor LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara.
Informasi yang dihimpun, dugaan peristiwa tersebut disebut terjadi di lingkungan sekolah berinisial SMA X, Jalan Padang, Kecamatan Binjai Selatan, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 16.15 WIB.
Namun, kronologi lengkap maupun motif dugaan penganiayaan tersebut hingga kini belum diketahui secara pasti.
Kanit PPA Polres Binjai, Iptu Yon Edi, saat dikonfirmasi terkait perkara tersebut tidak memberikan keterangan panjang.
“Satu pintu di Humas,” ujar Edi, Jumat (25/9/2026).
Sementara itu, Kasi Humas Polres Binjai, Iptu Mimpin Ginting, mengatakan perkara tersebut masih dalam proses penanganan.
“Kita tunggu saja hasil penyelidikan Satreskrim sesuai dengan prosedur hukum,” ucap Mimpin.
Terpisah, pihak sekolah berinisial SMA X sebelumnya mengaku baru mengetahui adanya dugaan penganiayaan tersebut setelah mendapat informasi dari wartawan.
Kepala sekolah berinisial J mengaku belum mengetahui secara pasti mengenai dugaan kejadian tersebut.
“Saya belum tahu ini kejadiannya, sumpah. Biasanya kalau ada kejadian, langsung pada tahu,” kata J.
J kemudian mengaku akan meminta keterangan dari guru maupun pihak terkait untuk mengetahui duduk perkara sebenarnya.
“Atas informasi ini, coba akan saya panggil gurunya,” ucapnya.
Menurut J, siswa yang disebut sebagai korban merupakan siswa yang baik dan tidak dikenal sebagai anak yang bermasalah. Siswa tersebut diketahui merupakan pindahan dari salah satu sekolah negeri di Kota Medan dan masuk ke SMA X saat duduk di kelas XI.
Saat ini, siswa tersebut telah duduk di kelas XII.
J juga menyebut, jika dugaan peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (16/9/2026), siswa tersebut tidak masuk sekolah pada Kamis (17/9/2026), kemudian kembali masuk pada Jumat (18/9/2026).
“Kalau kejadiannya Rabu (16/9/2026), Kamis (17/9/2026) memang tidak masuk dan Jumat (18/9/2026) masuk (korban), tapi tidak terlihat tanda-tanda (kalau diduga dianiaya),” ujar J.
Namun, sejak Senin (21/9/2026), siswa tersebut kembali tidak masuk sekolah karena sakit. Pihak sekolah disebut menerima surat keterangan sakit dari RS Bidadari.
“Dari Senin (21/9/2026) sampai sekarang tidak masuk. Memang ada rencana, mau dijenguk, karena kami tidak tahu sakit apa,” ucap J.
Hingga kini, dugaan penganiayaan tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian. Keterangan mengenai dugaan kejadian, pihak yang dilaporkan, serta ada atau tidaknya unsur pidana masih menunggu hasil penyelidikan Satreskrim Polres Binjai.KMN-Nas

