Terlilit Ekonomi, Warga Binjai Tewas di Kamboja- "Jenazah Terlantar", Istri Mohon Bantuan Presiden dan Gubsu
KitaMonitor – BINJAI | Nasib tragis dialami Rasdy Fauzi (39), warga Jalan Nenas, Gang Nenas I, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai. Demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga, ia nekat merantau ke Kamboja. Namun, harapan itu berujung duka. Setelah bekerja selama satu tahun tiga bulan, Rasdy ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Poipet, Kamboja, Minggu (3/5/2025).
Kabar duka ini semakin menghancurkan sang istri, Kiki Tresia (30), yang sebelumnya juga kehilangan anak pertama mereka. Di tengah suasana rumah duka, Kiki menceritakan bahwa keputusan suaminya berangkat ke Kamboja dilatarbelakangi kondisi ekonomi yang sulit usai kontrak kerjanya sebagai sales di Binjai berakhir.
“Empat bulan suami saya nganggur. Karena terdesak ekonomi, dia akhirnya menerima tawaran kerja dari kawannya di Kamboja. Katanya gaji tidak besar, tapi ada. Memang kerjanya scam, tapi suami saya tetap berangkat,” ujar Kiki dengan suara bergetar, Selasa (5/5/2026).
Menurut Kiki, proses keberangkatan berlangsung cepat. Setelah dihubungi rekannya, Rasdy diminta mengurus paspor melalui agen. Dalam waktu singkat, dokumen selesai dan dua minggu kemudian ia langsung berangkat ke Kamboja pada Februari 2025.
Selama bekerja di luar negeri, komunikasi dengan keluarga masih terjalin. Namun, belakangan kondisi Rasdy disebut mulai menurun. Ia sempat mengabarkan adanya razia besar di tempat kerjanya dan pembagian paspor kepada para pekerja.
“Saya sempat minta dia pulang, tapi katanya tunggu bonus. Ternyata bonus itu tidak ada, malah seperti ditipu. Sejak itu dia stres dan katanya sudah tidak makan. Terakhir saya lihat fotonya, badannya sudah biru,” ungkap Kiki.
Ia menduga suaminya meninggal akibat serangan jantung yang dipicu kondisi fisik yang menurun, ditambah kebiasaan hanya mengonsumsi kopi tanpa makan.
Ironisnya, hingga hari ketiga pasca kematian, jenazah Rasdy masih terlantar di kamar kosnya di Poipet. Rekan-rekannya yang juga mengalami masalah visa disebut telah melarikan diri ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja untuk mencari perlindungan.
Kiki mengaku telah berulang kali mencoba berkomunikasi dengan pihak KBRI. Namun hingga kini, belum ada kepastian terkait proses pemulangan jenazah suaminya ke Indonesia.
“Kami sudah hubungi KBRI sejak awal, tapi jawabannya hanya disuruh menunggu polisi. Katanya ada yayasan yang bisa bantu, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan. Terakhir komunikasi kemarin sore, setelah itu tidak ada kabar lagi,” katanya.
Dengan penuh harap, Kiki memohon perhatian dan bantuan pemerintah pusat maupun daerah agar jenazah suaminya dapat dipulangkan ke tanah air.
“Saya mohon kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, tolong bantu kami memulangkan jenazah suami saya. Kami hanya ingin dia dimakamkan di kampung halaman, supaya kami tahu di mana harus berziarah,” ucapnya sambil menahan tangis.
Kisah ini menjadi potret pilu bagaimana tekanan ekonomi mendorong warga mengambil risiko bekerja ke luar negeri secara nonformal, yang berujung pada tragedi tanpa kepastian perlindungan.KMN-Zai

