KitaMonitor – TIMUR TENGAH | Ketegangan militer di Timur Tengah kembali meningkat setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengonfirmasi penggunaan sejumlah rudal balistik canggih dalam rangkaian serangan balasan terhadap Israel. Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang disebut “True Promise IV”, yang diluncurkan sebagai respons atas eskalasi konflik antara Iran dan Israel di kawasan.
Menurut pernyataan resmi IRGC, operasi tersebut dilakukan dalam beberapa gelombang serangan yang memanfaatkan kombinasi rudal balistik dan drone. Target yang disasar disebut meliputi fasilitas militer strategis Israel serta sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Salah satu sistem persenjataan yang dilaporkan digunakan adalah rudal balistik Khaibar Shekan missile, yang dikembangkan oleh divisi dirgantara IRGC. Rudal ini termasuk generasi baru berbahan bakar padat dengan jangkauan sekitar 1.400–1.450 kilometer, memungkinkan Iran menjangkau berbagai target strategis di kawasan. Sistem ini juga dilengkapi teknologi maneuverable reentry vehicle (MaRV) yang memungkinkan hulu ledak bermanuver pada fase akhir penerbangan guna meningkatkan peluang menembus sistem pertahanan udara lawan.
Sejumlah laporan juga menyebut bahwa rudal tersebut dapat membawa sub-munitions atau hulu ledak terpisah, yang akan menyebar menjadi beberapa proyektil saat mendekati target. Pola serangan ini dirancang untuk menyulitkan sistem pertahanan berlapis milik Israel seperti Iron Dome dan Arrow missile defense system.
Selain Khaibar Shekan, IRGC dilaporkan menggunakan beberapa jenis rudal lainnya, termasuk Khorramshahr‑4 missile, rudal balistik berat jarak menengah yang memiliki daya hancur besar, serta Fattah hypersonic missile, rudal hipersonik Iran yang diklaim mampu melaju lebih dari Mach 10 dan dirancang untuk menembus sistem pertahanan rudal modern.
Dalam beberapa gelombang operasi yang berlangsung sejak akhir Februari hingga awal Maret 2026, IRGC menyatakan telah meluncurkan puluhan hingga ratusan rudal dan drone ke berbagai target militer. Operasi tersebut disebut sebagai demonstrasi kemampuan teknologi rudal Iran sekaligus pesan strategis kepada lawan di kawasan.
Para analis militer menilai penggunaan rudal generasi baru ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam program persenjataan Iran, terutama dalam hal kecepatan, akurasi, dan kemampuan penetrasi terhadap sistem pertahanan udara modern. Namun, di sisi lain, eskalasi penggunaan rudal balistik berteknologi tinggi juga meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Situasi keamanan di kawasan masih terus berkembang, dengan kedua pihak dilaporkan tetap berada dalam status siaga tinggi serta meningkatkan operasi militer masing-masing. Konflik ini dinilai berpotensi memicu ketegangan geopolitik yang lebih besar jika tidak segera mereda melalui jalur diplomasi internasional.KMN-red/tasnimnews/prestv1
