KitaMonitor – TEHERAN | Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran mengklaim telah melancarkan serangan besar menggunakan rudal hipersonik dan drone tempur ke sejumlah target strategis di Israel dalam rangkaian operasi militer yang mereka sebut sebagai “True Promise 4”.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah di Teheran, IRGC menyatakan bahwa rudal hipersonik—termasuk yang disebut sebagai jenis Fattah hypersonic missile dan Kheibar missile—serta drone serang diluncurkan menuju sejumlah sasaran penting di Israel.
Target yang disebutkan antara lain Ben Gurion International Airport di dekat Tel Aviv serta kompleks Kementerian Pertahanan Israel. Menurut klaim Iran, serangan tersebut sempat mengganggu operasional bandara dan memicu kepanikan di beberapa wilayah Israel setelah sirene peringatan serangan udara berbunyi berulang kali.
Klaim Serangan ke Sistem Radar Koalisi
IRGC juga mengklaim berhasil menghancurkan lebih dari tujuh sistem radar canggih milik Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Salah satu yang disebut menjadi sasaran adalah radar peringatan dini AN/FPS-132 early warning radar yang berada di Al Udeid Air Base, Qatar.
Selain itu, fasilitas radar di Bahrain yang berkaitan dengan markas United States Fifth Fleet juga dilaporkan menjadi target serangan.
Jika klaim tersebut benar, kerusakan pada radar peringatan dini berpotensi mengurangi kemampuan deteksi awal terhadap peluncuran rudal di kawasan, yang merupakan bagian penting dari sistem pertahanan udara koalisi AS–Israel.
Israel dan AS Akui Kerusakan Terbatas
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat dan Israel mengakui adanya kerusakan pada sejumlah fasilitas militer dan infrastruktur akibat serangan tersebut. Namun kedua negara menegaskan bahwa sebagian besar rudal dan drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Sistem pertahanan yang digunakan antara lain Arrow-3 missile defense system milik Israel dan THAAD missile defense system yang dioperasikan oleh militer Amerika Serikat.
Militer Israel menyatakan intersepsi berhasil mencegah dampak yang lebih luas, meskipun beberapa proyektil dilaporkan tetap mencapai wilayah target.
Ancaman Eskalasi Lebih Lanjut
Dalam pernyataannya, IRGC memperingatkan bahwa operasi militer akan terus berlanjut dan bahkan dapat meningkat intensitasnya jika serangan terhadap wilayah Iran atau terhadap pimpinan negara tersebut terus terjadi.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, termasuk laporan mengenai serangan sebelumnya yang menargetkan tokoh penting Iran.
Para pengamat menilai situasi di Timur Tengah kini berada pada tingkat eskalasi yang sangat tinggi, dengan risiko konflik terbuka yang melibatkan beberapa negara di kawasan.
Hingga kini, sejumlah klaim dari masing-masing pihak masih menunggu verifikasi independen dari sumber internasional. Namun perkembangan terbaru tersebut menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran, Israel, dan sekutu mereka telah memasuki fase yang semakin serius dan berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan regional.KMN-red/fb/md
